<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5869925387959325419</id><updated>2011-12-13T21:43:39.536-08:00</updated><category term='Audiologi'/><category term='Rinologi'/><category term='Otologi'/><category term='Faringologi/Laringologi'/><category term='Others related'/><title type='text'>Informasi Kesehatan THT</title><subtitle type='html'>Konsultasi seputar penyakit telinga hidung tenggorok</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://imammegantara.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imammegantara.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>IMAM MEGANTARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09443155774992248001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_xZs05pnMnmA/SDXAXv2FcvI/AAAAAAAAAHc/6vZ__HK2XbA/S220/100_0140.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5869925387959325419.post-2200708292066701279</id><published>2008-09-14T09:11:00.000-07:00</published><updated>2008-09-14T09:42:22.739-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Otologi'/><title type='text'>Otitis Media Efusi</title><content type='html'>Sebelum membicarakan tentang otitis media Efusi (OME), akan lebih baik bila kita memahami terminologi berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Otitis media&lt;/span&gt; adalah peradangan pada telinga tengah dan sistem sel udara mastoid.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Otitis media efusi&lt;/span&gt; &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(OME)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; adalah peradangan telinga tengah dan mastoid yang ditandai dengan akumulasi cairan di telinga tengah tanpa disertai tanda atau gejala infeksi akut.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Otitis media akut &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;strong&gt;(&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;OMA)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; adalah proses infeksi yang ditentukan oleh adanya cairan di telinga tengah dan disertai tanda dan gejala seperti nyeri telinga (otalgia), rasa penuh di telinga atau gangguan dengar, serta gejala penyerta lainnya tergantung berat ringannya penyakit, antara lain: demam, iritabilitas, letargi, anoreksia, vomiting, bulging hingga perforasi membrana timpani, yang dapat diikuti dengan drainase purulen.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Otitis media kronik&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt; (OMK)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; adalah proses peradangan di telinga tengah dan mastoid yang menetap &gt; 12 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;Otitis Media Efusi (OME)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Penyakit ini dikenal pula dengan &lt;em&gt;serous otitis media&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;glue ear&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;non purulen otitis media&lt;/em&gt;. OME adalah salah satu penyakit yang paling sering terjadi pada anak. Pada populasi anak, OME dapat timbul sebagai suatu kelainan &lt;em&gt;short-term&lt;/em&gt; menyertai suatu infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), ataupun sebagai proses kronis yang disertai gangguan dengar berat, keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa, gangguan keseimbangan, hingga perubahan struktur membrana timpani dan tulang pendengaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Patogenesis OME&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi yang dianggap sebagai penyebab utama munculnya OME adalah setiap keadaan yang mempengaruhi muara/ujung proksimal tuba eustachius (TE) di nasofaring ataupun mekanisme mukosiliari klirens dari TE. TE dianggap sebagai katup (valve) penghubung telinga tengah dan nasofaring. Struktur ini menjamin ventilasi telinga tengah, sehingga menjaga tekanan tetap ekual di kedua sisi gendang telinga (membrana timpani = MT). Karena itu berbagai keadaan yang merubah integritas normal TE dapat menyebabkan akumulasi cairan di telinga tengah dan mastoid. Akumulasi ini dapat diikuti proses infeksi, sebagai akibat sekunder dari infeksi yang menjalar ke atas melalui TE, menghasilkan otitis media dan kemungkinan mastoiditis.&lt;br /&gt;Edema faring dan peradangan akibat ISPA biasanya berefek terhadap ujung proksimal TE di nasofaring ataupun mekanisme mukosiliari klirens TE. Keadaan lain seperti: alergi hidung, barotrauma, penekanan terhadap muara/torus tuba oleh massa seperti adenoid yang membesar ataupun tumor di nasofaring, abnormalitas anatomi TE ataupun deformitas celah palatum, benda asing seperti nasogastrik atau nasotrakeal tube, dapat pula menjadi faktor predisposisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Mengapa anak usia prasekolah rentan terhadap OME?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Statistik menunjukkan 80-90% anak prasekolah pernah menderita OME. Saat lahir TE berada pada bidang paralel dengan dasar tengkorak, sekitar 10 derajat dari bidang horisontal, dan memiliki lumen yang pendek dan sempit. Semakin bertambah usia, terjadi perubahan bermakna, terutama saat mencapai usia 7 tahun, di mana lumen TE lebih panjang dan lebar, serta ujung proksimal TE di nasofaring terletak 2-2.5 cm di bawah orifisium TE di telinga tengah atau membentuk sudut 45 derajat terhadap bidang horisontal telinga. Dengan struktur yang demikian, pada anak usia &lt; 7 tahun, sekresi dari nasofaring lebih mudah mencapai telinga tengah dan membawa kuman patogen ke telinga tengah. Selain itu inflamasi ringan saja sudah dapat menyumbat lumen TE yang sempit. Selain itu terdapat pula beberapa faktor resiko pada anak, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Faktor resiko anatomi: anomali kraniofasial, down syndrome, celah palatum, hipertrofi adenoid, dan GERD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Faktor resiko fungsional: serebral palsy, &lt;em&gt;down syndrome, &lt;/em&gt;kelainan neurologis lainnya, dan imunodefisiensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Faktor resiko lingkungan: &lt;em&gt;bottle feeding&lt;/em&gt;, menyandarkan botol di mulut pada posisi tengadah (&lt;em&gt;supine position&lt;/em&gt;), rokok pasif, status ekonomi rendah, banyaknya anak yang dititipkan di fasilitas penitipan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga tidak heran bahwa kasus OME berulang (&lt;strong&gt;OME rekuren&lt;/strong&gt;) pun menunjukkan prevalensi yang cukup tinggi terutama pada anak usia prasekolah, sekitar 28-38%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Diagnosis OME&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosis OME seringkali sulit ditegakkan karana prosesnya sendiri yang kerap tidak bergejala (asimptomatik), atau dikenal dengan &lt;em&gt;silent otitis media&lt;/em&gt;. Dengan absennya gejala seperti nyeri telinga, demam, ataupun telinga berair, OME sering tidak terdeteksi baik oleh orang tuanya, guru, bahkan oleh anaknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lazimnya diagnosis OME dibuat berdasarkan pemeriksaan fisik telinga dengan menemukan cairan di belakang MT yang normalnya translusen.&lt;br /&gt;Pemeriksaan otoskopik dapat memperlihatkan:&lt;br /&gt;- MT yang &lt;em&gt;retracted&lt;/em&gt; (tertarik ke dalam), &lt;em&gt;dull&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;opaque&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;- Warna MT bisa merah muda cerah hingga biru gelap.&lt;br /&gt;- &lt;em&gt;Short process&lt;/em&gt; maleus terlihat sangat menonjol dan &lt;em&gt;long process&lt;/em&gt; tertarik medial dari MT.&lt;br /&gt;- Adanya level udara-cairan (&lt;em&gt;air fluid level&lt;/em&gt;) membuat diagnosis lebih nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa instrumen penunjang juga membantu menegakkan diagnosis OME, antara lain:&lt;br /&gt;- &lt;em&gt;Pneumatic otoscope&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;- &lt;em&gt;Impedance audiometry&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;tympanometry&lt;/em&gt;): digunakan untuk mengukur perubahan impedans akustik sistem MT-telinga tengah melalui perubahan tekanan udara di telinga luar.&lt;br /&gt;- &lt;em&gt;Pure tone Audiometry&lt;/em&gt;: juga banyak digunakan, terutama menilai dari sisi gangguan dengar atau tuli konduktif yang mungkin berasosiasi dengan OME. Meski teknik ini &lt;em&gt;time consuming&lt;/em&gt; dan membutuhkan peralatan yang mahal, tetap digunakan sebagai skrining, dimana tuli konduktif berkisar antara derajat ringan hingga sedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Pengobatan OME&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan OME langsung diarahkan untuk memperbaiki ventilasi normal telinga tengah. Untuk kebanyakan penderita, kondisi ini diperoleh secara alamiah, terutama jika berasosiasi dengan ISPA yang berhasil disembuhkan. Artinya banyak OME yang tidak membutuhkan pengobatan medis. Akan lebih baik menangani faktor predisposisi-nya, misalnya: jika dikarenakan barotrauma, maka aktivitas yang berpotensi untuk memperoleh barotrauma berikutnya, seperti: penerbangan atau menyelam, sebaiknya dihindarkan. Strategi lainnya adalah menghilangkan atau menjauhkan dari pengaruh asap rokok, menghindarkan anak dari fasilitas penitipan anak, menghindarkan berbagai alergen makanan atau lingkungan jika anak diduga kuat alergi atau sensitif terhadap bahan2 tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika OME ternyata menetap dan mulai bergejala, maka pengobatan medis mulai diindikasikan, seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Antihistamin atau dekongestan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasionalisasi kedua obat ini adalah sebagai hasil komparasi antara sistem telinga tengah dan mastoid terhadap sinus paranasalis. Karena antihistamin dan dekongestan terbukti membantu membersihkan dan menghilangkan sekresi dan sumbatan di sinonasal, maka tampaknya logis bahwa keduanya dapat memberikan efek yang sama untuk OME. Jika ternyata alergi adalah faktor etiologi OME, maka kedua obat ini seharusnya memberikan efek yang menguntungkan terhadap OME.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Mukolitik&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimaksudkan untuk merubah viskoelastisitas mukus telinga tengah untuk memperbaiki transport mukus dari telinga tengah melalui TE ke nasofaring. Namun demikian mukolitik ini tidak memegang peranan penting dalam pengobatan OME.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Antibiotika&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian obat ini harus dipertimbangkan secara hati-hati. Karena OME bukanlah infeksi sebenarnya (&lt;em&gt;true infection&lt;/em&gt;). Meskipun demikian OME seringkali diikuti oleh OMA, di samping itu isolat bakteri juga banyak ditemukan pada sampel cairan OME. Organisme tersering ditemukan adalah &lt;em&gt;S. pneumoniae&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;H. influenzae non typable&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;M. catarrhalis&lt;/em&gt;, dan grup A streptococci, serta &lt;em&gt;Staphyllococcus aureus&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Controlled studies&lt;/em&gt; menunjukkan antibiotika golongan amoksisilin, amoksisilin-klavulanat, sefaklor, eritromisin, trimetropim-sulfametoksazol, atau eritromisin-sulfisoksazole, dapat memperbaiki klirens efusi dalam 1 bulan. Pemberian antibiotika juga meliputi dosis profilaksis yaitu ½ dosis yang digunakan pada infeksi akut. Namun demikian perlu dipertimbangkan pula hubungan antara antibiotika profilaksis dengan tingginya prevalensi dan meningkatnya spesies bakteri yang resisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Kortikosteroid&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa klinisi mengusulkan pemberian kortikosteroid untuk mengurangi respon inflamasi di kompleks nasofaring-TE dan menstimulasi agent-aktif di permukaan TE dalam memfasilitasi pergerakan udara dan cairan melalui TE. Pemberian dapat berupa kortikosteroid oral atau topikal (nasal), ataupun kombinasi. Berdasarkan &lt;em&gt;clinical guidance&lt;/em&gt; 1994, pemberian steroid bersama-sama antibiotika pada anak usia 1-3 tahun mampu memperbaiki klirens OME dalam 1 bulan sebesar 25%. Namun demikian karena hanya memberikan hasil jangka pendek dengan kejadian OME rekuren yang tinggi, serta resiko sekuele maka kortikosteroid tidak lagi direkomendasikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5869925387959325419-2200708292066701279?l=imammegantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imammegantara.blogspot.com/feeds/2200708292066701279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5869925387959325419&amp;postID=2200708292066701279' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/2200708292066701279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/2200708292066701279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imammegantara.blogspot.com/2008/09/otitis-media-efusi.html' title='Otitis Media Efusi'/><author><name>IMAM MEGANTARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09443155774992248001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_xZs05pnMnmA/SDXAXv2FcvI/AAAAAAAAAHc/6vZ__HK2XbA/S220/100_0140.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5869925387959325419.post-2050658013426925226</id><published>2008-09-12T09:56:00.000-07:00</published><updated>2008-09-14T00:12:33.845-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Audiologi'/><title type='text'>Memahami Telinga Kita ..... Bagaimana ia mendengar?</title><content type='html'>Harus diakui betapa berharganya telinga bagi kehidupan kita. Karena itu tidakkah kita ingin mengetahui lebih dalam indera yang satu ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Jika kita melihat sekilas struktur telinga di kedua sisi kepala ... maka tampaknya sederhana saja. Tapi pernahkan kita sadar betapa mengagumkan struktur di balik daun telinga yang biasa kita lihat? Bagaimana hebatnya ia mengolah bunyi/suara menjadi suatu informasi yang berharga bagi kemajuan intelektualitas seseorang. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;&lt;strong&gt;Meninjau apa dan bagaimana telinga bekerja?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SMyRZX9ta_I/AAAAAAAAAH0/clARLekRDSg/s1600-h/anatomi+telinga.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245727531095387122" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 292px; CURSOR: hand; HEIGHT: 204px" height="187" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SMyRZX9ta_I/AAAAAAAAAH0/clARLekRDSg/s320/anatomi+telinga.bmp" width="234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Telinga tersusun sedemikian rupa hingga ia berfungsi sebagai reseptor suara. Ia memiliki berbagai komponen yang menyebabkan ia layak menjadi sebuah instrumen recorder yang teramat sempurna. Ia memiliki receiver, transmiter, transformator, dan transduktor, serta sistem relay, proteksi, dan amplifikasi. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Secara umum telinga terbagi menjadi 3 bagian, yaitu: telinga luar (&lt;em&gt;external ear&lt;/em&gt;), telinga tengah (&lt;em&gt;middle ear&lt;/em&gt;), dan telinga dalam (&lt;em&gt;inner ear&lt;/em&gt;). Ke-3 bagian telinga ini terletak di dalam tulang temporal kepala. Tulang temporal adalah struktur berbentuk piramidal yang membentuk bagian dasar dan pinggir (lateral) kedua sisi tulang tengkorak. Bagian2 utama tulang temporal adalah segmen tulang skuamosa, petrosa, timpanik, dan mastoid. Pada tulang temporal inilah selain organ pendengaran (koklea) juga tersimpan organ keseimbangan (vestibuler).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;TELINGA LUAR&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Struktur apa saja yang membentuk telinga luar?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Telinga luar&lt;/em&gt; terdiri dari daun telinga (&lt;em&gt;pinna&lt;/em&gt;) dan saluran telinga luar (&lt;em&gt;external auditory canal=EAC&lt;/em&gt;). Batas medial EAC adalah gendang telinga (&lt;em&gt;membrana timpani&lt;/em&gt;=MT). Sekitar 1/3 luar EAC tersusun atas tulang rawan dan mengandung folikel rambut, kelenjar serumentosa, dan kelenjar sebasea (kelenjar minyak). Sedangkan 2/3 dalam EAC tersusun atas tulang, dan tidak mengandung kelenjar. EAC dilapisi kulit sebagai kelanjutan kulit daun telinga. Di bagian dalam, kulit EAC membentuk lapisan terluar MT. Panjang EAC sekitar 2.5-3 cm (orang dewasa), dengan diameter 1 cm, dan bentuknya mirip huruf S kurus. Fungsi utama EAC adalah mengumpulkan dan mengarahkan input suara dari luar menuju MT. Struktur dan panjang EAC juga turut menentukan resonansi frekuensi spesifiknya yaitu antara 3-4 kHz. Ini juga faktor utama yang menjelaskan mengapa &lt;em&gt;noice-induce hearing loss&lt;/em&gt; (NIHL = gangguan dengar akibat pajanan bising) biasanya terjadi pada frekuensi antara 3-6 kHz, dengan puncak gangguan pada 4 kHz seperti tercatat pada audiogram.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;strong&gt;TELINGA TENGAH&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Telinga tengah&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;middle ear cleft&lt;/em&gt; adalah suatu celah berisi udara dengan volume berkisar 1 - 2 cm3 (cm kubik). Pada &lt;em&gt;telinga tengah&lt;/em&gt; terdapat &lt;strong&gt;tulang2 pendengaran&lt;/strong&gt; (osikel), muskulus (otot) tensor timpani dan stapedius, dan saraf korda timpani (serabut saraf pengecap untuk 2/3 anterior lidah, dan serabut parasimpatik untuk kelenjar submandibular dan sublingual). Batas2 telinga tengah adalah MT di bagian lateral, dan dinding lateral (kapsul labirin) &lt;em&gt;telinga dalam&lt;/em&gt; di bagian medial. &lt;em&gt;Telinga tengah&lt;/em&gt; berhubungan dengan rongga/sel udara mastoid melalui sebuah lubang sempit yang dinamakan antrum, dan juga berhubungan dengan nasofaring (ruang di belakang hidung) melalui &lt;em&gt;tuba eustachius&lt;/em&gt;. Selain struktur di atas, serabut saraf wajah (nervus fasialis) yang berjalan di dalam saluran tulang terletak sangat dekat dengan &lt;em&gt;telinga tengah&lt;/em&gt;, yang mungkin saja melekat dan meningkatkan resiko kerusakan atau penekanan saraf wajah ini saat timbul lesi abnormal di &lt;em&gt;telinga tengah&lt;/em&gt; yang mengakibatkan kelumpuhan otot2 wajah.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Apa saja tulang2 pendengaran (osikel) yang terdapat di telinga tengah?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SMyTsGryPHI/AAAAAAAAAH8/HhPbBqmsPWI/s1600-h/14303-004-A1009028.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245730051897572466" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 276px" height="200" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SMyTsGryPHI/AAAAAAAAAH8/HhPbBqmsPWI/s320/14303-004-A1009028.gif" width="237" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;3 buah tulang pendengaran, yaitu: &lt;em&gt;maleus&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;incus&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;stapes,&lt;/em&gt; membentuk rantai tulang pendengaran (&lt;em&gt;osicular chain&lt;/em&gt;). Posisi &lt;em&gt;maleus&lt;/em&gt; adalah di antara MT dan inkus, artinya sisi luar maleus melekat pada MT dan sisi dalam membentuk persendian dengan &lt;em&gt;incus&lt;/em&gt;. Selanjutnya &lt;em&gt;incus&lt;/em&gt; akan membentuk persendian dengan &lt;em&gt;stapes&lt;/em&gt;. Dan &lt;em&gt;stapes&lt;/em&gt; kemudian berhubungan dengan &lt;em&gt;oval window&lt;/em&gt; telinga dalam. Dengan demikian &lt;em&gt;osicular chain&lt;/em&gt; imenjembatani inter-koneksi &lt;em&gt;telinga luar&lt;/em&gt; hingga &lt;em&gt;telinga dalam&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Apa peranan dari otot tensor timpani dan otot stapedius?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kedua otot ini mengurangi proses mekanik telinga tengah. Pengertiannya adalah sebagai berikut, jika telinga kita menerima suara sangat keras (intensitas &gt; 80 dB) maka kemungkinan gerakan mekanik &lt;em&gt;osicular chain&lt;/em&gt; akan sangat progresif yang dapat merusak struktur &lt;em&gt;oval window&lt;/em&gt; telinga dalam. Sehingga saat intensitas suara mencapai nilai di atas, otot stapedius secara refleks akan berkontraksi untuk membatasi gerakan stapes. Meskipun fungsi utama refleks akustik ini adalah proteksi, ia juga meningkatkan mekanisme kontrol yang mempertahankan input suara ke telinga dalam (koklea) lebih konstan, dan memperluas rentang dinamik sistem telinga tengah, sebagai contoh: otot stapedius tercatat juga berkontraksi saat seseorang mengunyah dan bersuara (vokalisasi), sehingga dapat mereduksi bising yang timbul akibat gerakan2 yang berasal dari dalam tubuh sendiri. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Struktur mana di telinga tengah yang menjamin aerasi di telinga tengah?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Telah dijelaskan bahwa &lt;em&gt;telinga tengah&lt;/em&gt; adalah celah berisi udara, di mana tekanan udara di dalamnya harus tetap dipertahankan sesuai tekanan udara ambien (lingkungan luar) agar transfer sinyal suara berjalan optimal. &lt;em&gt;Tuba eustachius&lt;/em&gt; yang menghubungkan telinga tengah dengan nasofaring akan menjamin &lt;strong&gt;aerasi&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;drainase&lt;/strong&gt; telinga tengah. Jika &lt;em&gt;tuba eustachius &lt;/em&gt;mengalami disfungsi, dapat menimbulkan rasa tersumbat atau &lt;em&gt;popping&lt;/em&gt; di telinga dan/atau otitis media (radang/infeksi telinga tengah). Fungsi &lt;em&gt;tuba eustachius&lt;/em&gt; yang tidak matur, yang sering terjadi pada anak2, merupakan salah satu predisposisi utama timbulnya infeksi &lt;em&gt;telinga tengah&lt;/em&gt; pada populasi anak. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Bagaimana telinga tengah memaksimalkan transfer sinyal suara ke telinga dalam (koklea)?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ada hal mendasar yang membedakan &lt;em&gt;sistem telinga luar&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;sistem telinga dalam&lt;/em&gt;, yaitu: medium udara di telinga luar dan medium cairan di telinga dalam. Perbedaan medium ini menentukan perbedaan impedansi di antara kedua sistem ini, yaitu "energi perlawanan" &lt;em&gt;&lt;strong&gt;sistem telinga dalam&lt;/strong&gt; &lt;/em&gt;terhadap input energi suara jauh lebih besar dibanding &lt;em&gt;&lt;strong&gt;sistem telinga luar&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Artinya energi suara yang merambat sepanjang medium udara di telinga luar akan sangat menurun ketika mencapai medium cairan di telinga dalam. Karena itu &lt;em&gt;telinga tengah&lt;/em&gt; berfungsi meminimalisasi masalah ini. Amplifikasi energi suara terjadi akibat efek area MT dan aktivitas pengungkit dari &lt;em&gt;osicular chain&lt;/em&gt;. Efektivitas area vibrasi MT adalah sekitar 17 kali dibanding area &lt;em&gt;footplate&lt;/em&gt; &lt;em&gt;stapes&lt;/em&gt; (yaitu area perlekatan stapes pada &lt;em&gt;oval window&lt;/em&gt; telinga dalam), sehingga menghasilkan peningkatan energi suara sebesar 17 kali pula. Selain itu panjang &lt;em&gt;lengan maleus &lt;/em&gt;sekitar 1.3 kali panjang &lt;em&gt;short process&lt;/em&gt; &lt;em&gt;incus&lt;/em&gt;, sehingga kekuatan yang terbentuk pada &lt;em&gt;stapes&lt;/em&gt; akan meningkat sebesar 1.3 kali. Kombinasi dari kedua efek di atas (17 x 1.3) memberikan peningkatan energi mekanik 22:1, yang menyebabkan peningkatan energi suara setara 25 dB saat mencapai koklea telinga dalam. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;TELINGA DALAM&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Telinga dalam&lt;/em&gt; adalah suatu sistem labirin membranosa yang tertanam di dalam tulang. Sistem ini mengandung &lt;em&gt;auditory end organ&lt;/em&gt; (koklea) yang bertanggung jawab dalam mendeteksi suara, dan &lt;em&gt;vestibuler end organ&lt;/em&gt; (utrikukus, sakulus, dan kanalis semisirkularis) yang bertanggung jawab dalam mempertahankan keseimbangan tubuh, dengan mencitrakan gerakan akselerasi (linear ataupun anguler) maupun gerakan gravitasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;Apa koklea dan fungsinya?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SMyWiRjBEBI/AAAAAAAAAIM/H_alb5gF57Q/s1600-h/organo+korti.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245733181549776914" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 287px; CURSOR: hand; HEIGHT: 185px" height="201" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SMyWiRjBEBI/AAAAAAAAAIM/H_alb5gF57Q/s320/organo+korti.gif" width="299" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Koklea berbentuk seperti tabung menyerupai rumah siput yang melingkar sebanyak 2.5 kali putaran. Jika kita memotong koklea secara transversal, maka di dalam koklea terdapat 3 buah kompartemen, yaitu skala vestibuli (atas), skala media (tengah), dan skala timpani (bawah). &lt;em&gt;Membrana Reissneri&lt;/em&gt; memisahkan skala vestibuli dari skala media, sedangkan &lt;em&gt;membrana basilaris&lt;/em&gt; memisahkan skala media dari skala timpani. Di dalam skala vestibuli dan skala timpani terdapat &lt;strong&gt;perilimfe&lt;/strong&gt;, suatu cairan yang mirip dengan cairan ekstraseluler. Dan di dalam skala media terdapat &lt;strong&gt;endolimfe&lt;/strong&gt;, cairan yang mirip dengan cairan intraseluler. Di dalam skala media inilah terletak &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;organo korti&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Apa itu Organo Korti?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Organo korti pada skala media mengandung sel2 reseptor pendengaran (&lt;em&gt;auditory receptor cells&lt;/em&gt;), atau disebut pula &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;&lt;strong&gt;sel-sel rambut&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. Dinamakan sel2 rambut karena membran di bagian permukaan sel mengalami evaginasi yang disebut &lt;strong&gt;&lt;em&gt;stereosilia&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, yang mirip seperti rambut. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SMyX6LsiDMI/AAAAAAAAAIc/APMI_Oo8Yf4/s1600-h/Organo+korti+2.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245734691807562946" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 310px; CURSOR: hand; HEIGHT: 144px" height="159" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SMyX6LsiDMI/AAAAAAAAAIc/APMI_Oo8Yf4/s320/Organo+korti+2.gif" width="268" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Stereosilia mengandung &lt;em&gt;ion channels &lt;/em&gt;yang dapat terbuka aktif secara mekanik jika menerima stimulus suara. Selain sel2 rambut terdapat pula sel2 struktural dan sel2 pendukung (&lt;em&gt;supporting cells&lt;/em&gt;). Terdapat 2 tipe sel rambut, yaitu &lt;strong&gt;sel rambut dalam&lt;/strong&gt; (&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;&lt;em&gt;inner hair cells&lt;/em&gt;=IHC&lt;/span&gt;) dan &lt;strong&gt;sel rambut luar&lt;/strong&gt; (&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;em&gt;outer hair cells&lt;/em&gt;=OHC&lt;/span&gt;). IHC membentuk sebaris sel yang berjalan spiral di sepanjang koklea dekat aksis sentral. OHC membentuk 3-4 baris sel rambut yang berjalan pada koklea namun tidak berdekatan dengan aksis sentral. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagian dasar sel2 rambut menempel pada &lt;strong&gt;membrana basilaris&lt;/strong&gt;, sedangkan pada bagian permukaan di mana terdapat stereosilia terletak &lt;strong&gt;membrana tektorial. &lt;/strong&gt;Membrana basilaris dan tektorial berhubungan di bagian sentral. Suara akan mengerakkan kedua struktur ini pada arah berlawanan, sehingga stereosilia yang berada di permukaan sel rambut akan menekuk. Pergerakan stereosilia akan membuka dan menutup ion channels, menghasilkan potensial reseptor di IHC. Potensial reseptor ini menyebabkan keluarnya neurotransmitter ke serabut2 saraf aferen yang menjadi sinyal penting ke otak tentang adanya suara dengan frekuensi tertentu. Sel2 rambut koklea bersifat frekuensi spesifik, di mana stimulasinya oleh input suara tergantung pada &lt;em&gt;&lt;strong&gt;tonotopic map&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; membrana basilaris. Pengertiannya sebagai berikut: suara dengan frekuensi tinggi dideteksi di bagian basis koklea, sedangkan suara dengan frekuensi rendah dideteksi di bagian apeks. Properti mekanik membrana basilaris sendiri yang kemudian menentukan perbedaan tonotopik ini. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;Apa perbedaan antara IHC dan OHC?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Secara konseptual, IHC dianggap sebagai &lt;em&gt;auditory receptor cells&lt;/em&gt; yang klasik, yang bertanggung jawab mengirim sinyal dalam bentuk frekuensi suara yang spesifik ke otak. Sedangkan OHC dianggap memberikan efek amplifikasi dari stimulus suara kepada IHC yang terdekat, selain juga mempertajam respon frekuensi IHC terdekat. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada beberapa alasan untuk konsep di atas: &lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. OHC terlihat &lt;strong&gt;memendek &lt;/strong&gt;dan&lt;strong&gt; memanjang&lt;/strong&gt; jika dirangsang oleh suara. Gerakan &lt;em&gt;pumping&lt;/em&gt; (mirip kontraksi) seperti ini dapat mempengaruhi IHC dengan merubah gerakan membrana basilaris dan meningkatkan sensitivitas dan selektivitas frekuensi untuk &lt;em&gt;output&lt;/em&gt; koklear (sinyal menuju otak). Di samping itu suatu protein prestin telah berhasil diisolasi pada OHC yang memberikan kemampuan untuk berkontraksi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. IHC secara predominan dipersarafi oleh serabut &lt;strong&gt;aferen&lt;/strong&gt; yang membawa informasi dari sel2 rambut ke otak. Kebalikannya pada OHC, predominan dipersarafi serabut &lt;strong&gt;eferen,&lt;/strong&gt; yang justru membawa informasi dari otak ke sel2 rambut. Stimulasi serabut eferen OHC juga berperan dalam mengurangi respon dari koklea. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Bagaimana perjalanan input suara selanjutnya melalui saraf dari koklea ke otak?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Stimulasi saraf oleh input suara yang dimulai dari sel2 rambut kemudian berjalan sepanjang serabut aferen, selanjutnya berturut2 mencapai nukleus koklearis, kompleks olivarius superior, lemniskus lateralis, kolikulus inferior, dan &lt;em&gt;medial geniculate body&lt;/em&gt; untuk selanjutnya tiba di korteks auditori di otak. Pada level kompleks olivarius superior ke atas, mulai terjadi crossover antara input suara dari sisi kiri dan kanan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;KESIMPULAN&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;EAC&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; berfungsi mengumpulkan dan meneruskan input suara luar ke MT. Karena resonan frekuensi EAC adalah 3-4 kHz, maka dianggap sebagai faktor penyebab utama &lt;em&gt;peak &lt;/em&gt;NIHL terjadi pada frekuensi 4 kHz.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sistem telinga tengah&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; meng-amplifikasi suara&lt;em&gt; &lt;/em&gt;melalui efek area dari TM dan oval window, serta aksi gerakan pengungkit &lt;em&gt;osicular chain,&lt;/em&gt; di mana peningkatan yang terjadi dari kombinasi keduanya adalah 22:1 atau setara dengan 25 dB. Berbagai keadaan patologis yang merusak fungsi tersebut akan menimbulkan gangguan dengar tipe konduktif (&lt;em&gt;Conductive Hearing Loss&lt;/em&gt; = CHL). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;3. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tuba Eustachius&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; meng-&lt;em&gt;aerasi &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;drainase&lt;/em&gt; telinga tengah yang menjaga tekanan telinga tengah tetap terkontrol sehingga transfer energi suara menjadi optimal. Jika terjadi imaturitas maupun disfungsi, selain bisa menyebabkan CHL, juga menjadi faktor penting penyebab infeksi/radang telinga tengah atau otitis media.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sistem telinga dalam&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; mengandung &lt;em&gt;end organ auditory&lt;/em&gt;, yaitu koklea. Pada koklea inilah energi suara akan diubah menjadi potensial listrik yang ditangkap oleh reseptornya di sel2 rambut (&lt;em&gt;hair cells&lt;/em&gt;) organo korti. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;5. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Hair cells&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; terdiri dari 2 jenis, yaitu: IHC dan OHC. IHC berfungsi mengirim sinyal frekuensi suara spesifik ke otak. Sedangkan OHC berperan dalam meningkatkan sensitivitas dan selektivitas frekuensi untuk &lt;em&gt;output&lt;/em&gt; koklear (sinyal menuju otak) yang dihasilkan oleh IHC. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;6. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Korteks Auditory&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; di otak adalah akhir perjalanan input frekuensi suara yang berasal dari IHC organi korti, setelah melalui serabut aferen, nukleus koklearis, kompleks olivarius superior, lemniskus lateralis, kolikulus inferior, dan &lt;em&gt;medial geniculate body&lt;/em&gt;. Di korteks inilah input tersebut di olah sehingga menjadikan produk suara yang terdengar, dikenal, dipahami, dimengerti, diingat, dan lain sebagainya. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5869925387959325419-2050658013426925226?l=imammegantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imammegantara.blogspot.com/feeds/2050658013426925226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5869925387959325419&amp;postID=2050658013426925226' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/2050658013426925226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/2050658013426925226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imammegantara.blogspot.com/2008/09/memahami-bagaimana-telinga-kita.html' title='Memahami Telinga Kita ..... Bagaimana ia mendengar?'/><author><name>IMAM MEGANTARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09443155774992248001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_xZs05pnMnmA/SDXAXv2FcvI/AAAAAAAAAHc/6vZ__HK2XbA/S220/100_0140.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SMyRZX9ta_I/AAAAAAAAAH0/clARLekRDSg/s72-c/anatomi+telinga.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5869925387959325419.post-5197654329553030891</id><published>2008-09-03T09:44:00.000-07:00</published><updated>2008-09-14T09:55:27.204-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Others related'/><title type='text'>Telemedicine.. pentingkah di bidang kesehatan?</title><content type='html'>&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Telemedicine&lt;/span&gt; artinya memanfaatkan kemajuan teknologi telekomunikasi untuk pertukaran informasi kesehatan dan memberikan pelayanan kesehatan tanpa memandang batas geografis, waktu, sosial, dan kultur. Telemedicine akan bermanfaat bagi pasien maupun dokter jika implemantasinya berupa respon langsung bagi terpenuhinya kebutuhan di bidang kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;Apa bedanya e-health, telemedicine, dan telehealth? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,0)"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,0)"&gt;e-Health&lt;/span&gt; adalah memanfaatkan internet untuk transmisi informasi kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,0)"&gt;Telemedicine&lt;/span&gt; adalah penggunaan teknologi informasi dan telekomunikasi untuk pertukaran informasi kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,0)"&gt;Telehealth &lt;span style="COLOR: rgb(255,255,255)"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;dalah hasil dari pertukaran tersebut.&lt;br /&gt;Berdasarkan definisi tersebut, &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;telehealth&lt;/span&gt; mencakup pula pengertian terpisahnya jarak dan/atau waktu antara pesien dan dokter yang mendiagnosis atau mengobati.&lt;br /&gt;Teknologi &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;telehealth &lt;/span&gt;umumnya dimanfaatkan untuk beberapa kepentingan, antara lain:&lt;br /&gt;1. Mengirim pelayan kesehatan ke pasien yang berjarak jauh&lt;br /&gt;2. Mendidik provider, admisnistrator, pasien, dan keluarganya&lt;br /&gt;3. Untuk mengakumulasi data atau memonitor insidensi penyakit sebagai bagian dari kesehatan masyarakat, epidemiologik, atau &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;biodefense network&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;telehealth&lt;/span&gt; memiliki potensi untuk memperbaiki akses pelayanan kesehatan, meningkatkan kualitas pelayanan, mengurangi kesalahan medis, mengurangi biaya kesehatan, dan lebih mendistribusikan informasi kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;Apa saja teknologi telemedicine yang dapat digunakan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk di dalamnya adalah: telefon, radio, audiograf, fax, gambar komputer, video broadcast, video full-motion, virtual reallity, aplikasi terbaru dalam &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;updated personal digital assistants &lt;/span&gt;(PDAs). Kebutuhan akan berbagai publikasi gambar2, terutama &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;digital imaging&lt;/span&gt; untuk meningkatkan pemahaman dalam aspek medis, membuat &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;telemedicine&lt;/span&gt; muncul sebagai komponen penting dalam bidang kesehatan, termasuk otolaryngology.&lt;br /&gt;sebagai contoh:&lt;br /&gt;Telemedicine dapat digunakan untuk menginformasikan, mendiagnosis, dan menengani pasien jarak jauh, seperti:&lt;br /&gt;1. Videokonferensi atau &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;stored-and-forward referral&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;2. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Tumor boards&lt;/span&gt; dan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;grand rounds&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;3. Rehabilitasi audiologi dan gangguan bicara&lt;br /&gt;4. Konsultasi gangguan dengar&lt;br /&gt;5. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Teleproctored&lt;/span&gt; (mengawasi tindakan pembedahan) dan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;telementored&lt;/span&gt; (instruksi bedah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;Apa bedanya teknologi store-and-forward dan real-time?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Store-and-forward&lt;/span&gt; artinya data dikirim ke &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;web-site&lt;/span&gt; dan kemudian diterima dan dianalisis oleh provider yang ditunjuk ke konsultan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;web-site&lt;/span&gt;. Konsultan akan me-&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;review&lt;/span&gt; gambar dan data klinis dalam waktu tertentu dan kemudian mengembalikan opininya melalui e-mail ke provider.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transmisi &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;real-time&lt;/span&gt; artinya provider, pasien, dan konsultan mengirim informasi pada saat yang bersamaan, kemudian dengan menggunakan internet atau videokonferensi, beberapa klinisi akan saling bertukar informasi. Contoh lain dari transmisi &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;real-time&lt;/span&gt; adalah percakapan telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;Mengapa tidak banyak orang memanfaatkan telemedicine?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Ada beberapa alasan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;1. Para praktisi enggan mempelajari dan menggunakan teknologi baru kecuali bila jelas memberikan keuntungan jika dilaksanakan.&lt;br /&gt;2. Praktisi memerlukan akses &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;hardware&lt;/span&gt; dan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;software &lt;/span&gt;untuk melaksanakan konsultasi &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;telemedicine&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;3. Terdapat keterbatasan dalam hal legalitas, sistem regulasi di suatu negara, etika, dan sosioekonomi untuk implementasi &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;telemedicine&lt;/span&gt; di bidang kesehatan secara menyeluruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Sebagai contoh&lt;/span&gt; :&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Lisence&lt;/span&gt; atau surat izin praktek (SIP). Semenjak negara kita menerapkan sistem terbatas 3 tempat praktek dan belum ada regulasi yang jelas mengenai legalitas SIP untuk berpraktek &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;telemedicine&lt;/span&gt; yang berarti melewati batas waktu dan geografis. Misalnya jika seorang dokter diberi izin untuk berpraktek di Bandung, maka besar kemungkinan ia tidak dapat menangani pasien menggunakan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;telemedicine&lt;/span&gt; di Bogor, kecuali ia memiliki pula SIP di wilayah Bogor. Masih diperlukan ketegasan dan regulasi standar untuk legalisasi &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;telehealth&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;Apa hambatan lain atau resiko yang mungkin timbul, dan bagaimana anda menyikapi telemedicine ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan dan kepercayaan yang berlebihan pada teknologi ini mungkin saja merusak komunikasi tradisional pasien-dokter, di samping resiko dan tanggung jawab dari seorang dokter. Masih banyak yang belum jelas mengenai resiko konsultasi, diagnosis, dan intervensi medis jarak jauh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu selama &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;telemedicine&lt;/span&gt; ini diperuntukkan untuk menambah wawasan dalam bidang kesehatan baik bagi pasien maupun dokter, sumber rujukan untuk mendapatkan strategi penanganan penyakit yang lebih baik dalam hal diagnosis maupun pengobatan, maka tidak salahnya dimanfaatkan secara informal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat manfaat yang besar, maka penggunaan&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt; telemedicine &lt;/span&gt;secara profesional tetap harus dikembangkan hingga terdapat sistem regulasi dan legalitas yang jelas, disertai dengan kapasitas yang baik dan bertanggung jawab dari siapapun yang akan menyelenggarakan telemedicine ini. Sebaiknya penyelenggara &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;telemedicine&lt;/span&gt; minimal adalah sebuah institusi rumah sakit dan suatu departemen sistem informasi yang duduk bersama dalam merencanakan implementasi sistem yang paling baik disesuaikan dengan kapabilitas yang dimiliki termasuk dalam hal teknologi yang tersedia dan paling tepat, manajerial, sistem operasional, serta &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;policy&lt;/span&gt; dan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;procedures manual&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5869925387959325419-5197654329553030891?l=imammegantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imammegantara.blogspot.com/feeds/5197654329553030891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5869925387959325419&amp;postID=5197654329553030891' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/5197654329553030891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/5197654329553030891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imammegantara.blogspot.com/2008/09/telemedicine-pentingkah-di-bidang.html' title='Telemedicine.. pentingkah di bidang kesehatan?'/><author><name>IMAM MEGANTARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09443155774992248001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_xZs05pnMnmA/SDXAXv2FcvI/AAAAAAAAAHc/6vZ__HK2XbA/S220/100_0140.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5869925387959325419.post-4478743971173006717</id><published>2008-08-30T08:43:00.000-07:00</published><updated>2008-09-14T00:08:31.906-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Faringologi/Laringologi'/><title type='text'>Suara Serak</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Suara serak = &lt;em&gt;hoarseness&lt;/em&gt; ?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Suara serak (&lt;em&gt;hoarseness&lt;/em&gt;) sering digunakan untuk menggambarkan perubahan kualitas suara, mulai dari suara lemah hingga kasar. Istilah &lt;em&gt;hoarseness&lt;/em&gt; sendiri dapat merefleksikan kelainan (abnormalitas) yang letaknya bisa di berbagai tempat di sepanjang saluran vokalis, mulai dari rongga mulut hingga paru. Meski idealnya istilah &lt;em&gt;hoarseness&lt;/em&gt; lebih baik ditujukan untuk disfungsi laring akibat vibrasi pita suara yang abnormal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebelum kita berbicara lebih lanjut mengenai hoarseness atau suara serak ini, ada baiknya terlebih dahulu memahami bagaimana suara itu diproduksi saat bicara. &lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SLlvziPWDdI/AAAAAAAAAHk/E_-jDSaC2Wc/s1600-h/untitled.bmp"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SLlwc1GZ7NI/AAAAAAAAAHs/9P1SaFvLl9w/s1600-h/untitled.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240343282014874834" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 247px; CURSOR: hand; HEIGHT: 171px" height="106" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SLlwc1GZ7NI/AAAAAAAAAHs/9P1SaFvLl9w/s320/untitled.bmp" width="245" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Terdapat 3 fase dalam berbicara: pulmonal (paru), laringeal (lariynx), dan supraglotis/oral.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Fase pulmonal menghasilkan aliran energi dengan inflasi dan ekspulsi udara. Aktivitas ini memberikan kolom udara pada laring untuk fase laringeal. Pada fase laringeal, pita suara bervibrasi pada frekuensi tertentu untuk membentuk suara yang kemudian di modifikasi pada fase supraglotik/oral. Kata (&lt;em&gt;word&lt;/em&gt;) terbentuk sebagai aktivitas faring (tenggorok), lidah, bibir, dan gigi. Disfungsi pada setiap stadium dapat menimbulkan perubahan suara, yang mungkin saja di interpretasikan sebagai &lt;em&gt;hoarseness&lt;/em&gt; oleh seseorang/penderita. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Adapun perbedaan frekuensi suara dihasilkan oleh kombinasi kekuatan ekspirasi paru dan perubahan panjang, lebar, elastisitas, dan ketegangan pita suara. Otot adduktor laringeal adalah otot yang bertanggung jawab dalam memodifikasi panjang pita suara. Akibat aktivitas otot ini, kedua pita suara akan merapat (aproksimasi), dan tekanan dari udara yang bergerak menyebabkan vibrasi dari pita suara yang elastik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Apa tanda klinis perubahan kualitas suara ?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Jika penderita mengeluh suara lemah/tertahan (&lt;em&gt;damped voice&lt;/em&gt;), besar kemungkinan letak abnormalitas bicara (&lt;em&gt;speech&lt;/em&gt;) tersebut adalah di fase paru atau saluran trakeobronkial (level di bawah pita suara), salah satunya akibat pergerakan paru yang terbatas, membuat suara yang keluar sulit dipersepsikan. Sedangkan jika terdapat kesulitan dalam pengucapan kata(artikulasi) atau mengalami perubahan resonansi suara seperti suara yang datang dari hidung, maka masalahnya kemungkinan berasal dari fase oral/faring. Abnormalitas dalam fase oral juga bisa menghasilkan suara muffled atau "&lt;em&gt;hot potato&lt;/em&gt;" voice (seperti orang berbisara saat mengunyah kentang panas). Kelainan yang berasal dari fase oral dan fase paru tidak dianggap sebagai &lt;em&gt;hoarseness&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;True hoarseness&lt;/em&gt; atau suara serak yang sebenarnya, berasal daro abnormalitas pada laring dan umumnya menghasilkan suara yang kasar, serak/parau (&lt;em&gt;raspy voice&lt;/em&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di bawah ini terdapat berbagai istilah untuk mengkarakteristikan &lt;em&gt;hoarseness&lt;/em&gt; atau perubahan kualitas suara:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;1. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Disfonia&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;: digunakan untuk menggambaran perubahan umum kualitas suara&lt;/div&gt;&lt;div&gt;2. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Diplofonia&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;: Menggambarkan suara yang dibentuk oleh vibrasi pita suara menghasilkan 2 frekuensi yang berbeda&lt;/div&gt;&lt;div&gt;3. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Afonia&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;: Terjadi jika tidak ada suara di hasilkan oleh pita suara. Ini sering terjadi sekunder terhadap tidak adanya aliran udara melalui pita suara, atau defisiensi dalam aproksimasi pita suara.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;4. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Stridor&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;: Mengindikasikan bising yang dihasilkan dari saluran penapasan atas selama inspirasi dan/atau ekspirasi karena adanya obstruksi. Stridor menandai keadaan emergensi, dan tidak dipertimbangkan sebagai &lt;em&gt;hoarseness&lt;/em&gt;. Artinya mungkin saja muncul bersamaan dengan &lt;em&gt;hoarseness&lt;/em&gt; jika obstruksi terjadi di level pita suara. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;Apa saja kategori hoarseness ?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Hoarseness dapat dibagi ke dalam 2 kategori, yaitu: onset akut dan onset kronis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Onset akut lebih sering terjadi dan biasanya karena peradangan lokal pada laring (laringitis akut). Laringitis akut bisa disebabkan oleh infeksi viral yang pada banyak kasus dapat sembuh dengan sendirinya, dan biasanya direkomendasikan untuk istirahat berbicara, meningkatkan asupan cairan, dan humidifikasi. Jika diduga terjadi karena infeksi sekunder bakterial, dapat diberikan antibiotik. Apabila tidak ada bukti adanya infeksi, laringitis akut bisa terjadi karena bahan kimia aau iritan dari lingkungan, atau akibat penggunaan suara berlebih (&lt;em&gt;voice overuse&lt;/em&gt;) pada penyanyi, pengajar, orator, dsb. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Onset kronis (Laringitis kronis), dapat disebabkan refluks faringeal, polip jinak, nodul pita suara, papilomatosis laring, tumor, defisit neurologis, ataupun peradangan kronis sekunder karena asap rokok atau &lt;em&gt;voice abuse&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;Apa penyebab hoarseness tersering ?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Laringitis akut viral&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nodul pita suara, polip, kista, papiloma&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Paralisis pita suara&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hipotiroidisme&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Rhinosinusitis&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kanker laring&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Refluks laringofaringeal&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tindakan Intubasi&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Alergi &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Apa penyakit sistemik yang dapat mempengaruhi suara dan menyebabkan hoarseness?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Antara lain&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Hipotirodisme&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Multiple sklerosis&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Rematoid artritis&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Penyakit Parkinson&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lupus sistemik&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Wagener's granulomatosis&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Miasenia Gravis&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sarkoidosis&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Amiloidosis&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Bagaimana penanganan Hoarseness akibat Laringitis kronis ?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Laringitis kronis adalah peradanan umum pada laring yang sering disebabkan oleh asap rokok, voice abuse, atau refluks laringofaringeal (reluks asam yang mengakibatkan iritasi pada area glotis dan supraglotis dari laring). Suara biasanya membaik jika faktor iritan dihilangkan. Pasien dengan refluks biasanya menunjukkan gejala hoarseness kronis, batuk kronis, iritasi tenggorok, sering membuang dahak, dan sensasi globus. Gejala refluks lainnya seperti heartburn hanya dirasakan pada 50% penderita refluks laringitis. Penanganan kasus seperti ini dengan memberikan H2 blockers dan proton pump ihibitor sangat efektif. Istirahat bicara juga bermanfaat, di samping berbaring dengan posisi kepala elevasi dari bidang horisontal kasur, dan menunggu 3-4 jam setelah makan sebelum pergi tidur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5869925387959325419-4478743971173006717?l=imammegantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imammegantara.blogspot.com/feeds/4478743971173006717/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5869925387959325419&amp;postID=4478743971173006717' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/4478743971173006717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/4478743971173006717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imammegantara.blogspot.com/2008/08/suara-serak.html' title='Suara Serak'/><author><name>IMAM MEGANTARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09443155774992248001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_xZs05pnMnmA/SDXAXv2FcvI/AAAAAAAAAHc/6vZ__HK2XbA/S220/100_0140.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SLlwc1GZ7NI/AAAAAAAAAHs/9P1SaFvLl9w/s72-c/untitled.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5869925387959325419.post-984114374262186147</id><published>2008-08-29T08:12:00.000-07:00</published><updated>2008-09-14T00:06:59.832-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Faringologi/Laringologi'/><title type='text'>Anda mengorok? atau Sering mengalami henti napas saat tidur?</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Apa itu ngorok? Apa bedanya dengan sleep apnea obstruktif (SAO)?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Ngorok atau istilah medisnya &lt;strong&gt;snoring&lt;/strong&gt; adalah bunyi napas yang timbul saat tidur. Sedangkan SAO adalah henti napas saat tidur (&lt;em&gt;sleep apnea&lt;/em&gt;) yang dapat mempengaruhi kualitas hidup dan berpotensi membahayakan jiwa. SAO lebih sebagai suatu sindroma di mana apnea timbul dalam beberapa periode. Apnea sendiri adalah terhentinya proses bernapas seseorang secara sementara dan intermiten selama 10 detik/lebih setiap periodenya. SAO timbul karena saluran napas bagian atas menyempit (oklusi) saat tidur menghasilkan beberapa episode apnea.&lt;br /&gt;Akibat dari apnea, penderita sering terbangun mendadak, namun tertidur lagi saat napas kembali normal, selanjutnya kejadian yang sama terjadi berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Siapa saja yang &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;mengorok?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Pada usia 30 tahun, 20% pria dan 5% wanita mengorok. Kemudian meningkat hingga 60% dan 40% pada usia 40 tahun. Hal ini terjadi karena dengan bertambahnya usia, mukosa palatum (langit2) orofaring, dan hipofaring menjadi kurang elastik dan mudah kolaps sewaktu menghirup udara (inspirasi). mengorok juga 3 kali lebih sering terjadi pada obesitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obesitas sering menyebabkan ngorok dan henti napas selama tidur karena berat leher, meningkatnya lemak di rongga parafaringeal yang mempersempit faring/tenggorok, langit-langit yang menebal, dan dasar lidah yang memadat. Ngorok dan henti napas (&lt;em&gt;sleep apnea&lt;/em&gt;) dapat muncul seiring, meski tidak benar2 pada saat yang bersamaan. Hampir sebagian besar orang yang &lt;em&gt;sleep apnea &lt;/em&gt;mengorok, namun orang yang mengorok belum tentu mengalami &lt;em&gt;sleep apnea&lt;/em&gt;. Sehingga kebiasaan mengorok pada seseorang tidak dapat dijadikan landasan dalam memutskan apakah seseorang &lt;em&gt;sleep apnea&lt;/em&gt; atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Siapa pula yang mengalami SAO?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Lebih dari 5% populasi orang dewasa di Amerika mengalami SAO. Kebanyakan dari mereka (70% kasus) dikaitkan dengan berat badan berlebih, sisanya ternyata berat badannya normal namun terdapat kondisi seperti deviasi septum hidung, polip hidung, amandel yang besar, atau rahang yang pendek (retrognatia). Pria dianggap 2-3 kali lebih banyak mengidap SAO, sedangkan wanita kebanyakan mengalami SAO saat mencapai usia menopause. SAO juga dikaitkan dengan beberapa kondisi medis tertentu, seperti: gagal jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar penderita SAO memiliki jaringan yang tebal atau saluran napas yang sempit. Pada keadaan di mana dua variasi anatomi tersebut muncul, keduanya akan berkombinasi menghasilkan kolaps saluran napas atas sehingga aliran udara tersumbat, ini yang disebut &lt;em&gt;sleep apnea &lt;/em&gt;tipe&lt;em&gt; &lt;/em&gt;perifer. Namun perlu dipahami bahwa terdapat pula &lt;em&gt;sleep apnea&lt;/em&gt; tipe sentral, di mana saluran napas tidak tersumbat tetapi otak (sistem saraf pusat) yang gagal memberikan sinyal ke otot2 untuk bernapas. Istilah &lt;em&gt;mixed sleep apnea&lt;/em&gt; adalah cerminan kombinasi keduanya.&lt;br /&gt;Adanya desaturasi oksihemoglobin akibat terhambatnya aliran udara seringkali menyebabkan penderita yang terjaga masuk kembali ke level tidur yang dangkal, dan saluran napas kembali membuka dengan karakter suara pernapasan yang nyaring (ngorok), namun tidurnya sendiri sangat terfragmentasi serta berkualitas buruk.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;Seberapa nyaring suara ngorok yang bisa dihasilkan?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suara ngorok paling keras tercatat dialami oleh Kare Walkert of Kumla, seorang berkebangsaan Swedia, yang menderita SAO, di mana suara yang terekam di Orebro regional hospital pada 23 Mei 1993 mencapai &lt;strong&gt;94 dB&lt;/strong&gt; !!! kekerasan ngorok ini setara jeritan anak atau kereta api bawah tanah.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;Apakah ngorok pada anak normal?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ngorok dan SAO pada anak adalah tidak normal ! Penyebabnya mungkin saja simpel seperti : pilek yang menyebabkan sumbata hidung, dan pembengkakan adenoid. Atau bisa juga lebih kompleks, seperti "fasies adenoid" yaitu suatu penyumbatan hidung kronis sehingga anak selalu bernapas melalui mulut dan menyebabkan struktur bagian tengah wajah menyempit dengan gigi yang menonjol langit-langit yang meninggi, dan rahang yang tertarik ke belakang diserta tertariknya otot-otot mengunyah. Lainnya adalah abnormalitas tulang kepala-wajah (Pirre Robin syndrome). Kasus lain termasuk kista nasofaring, encefalokel, atresia koana, dan deviasi septum hidung.&lt;br /&gt;Komplikasi yang bisa timbul antara lain: defisit neurokognitif, gangguan pertumbuhan, &lt;em&gt;Attention Deficit/Hyperactivity Disorders&lt;/em&gt; (ADHD), dan hipertensi pulmonal. Hanya sayangnya gangguan tidur seperti SAO pada anak sering tidak terdeteksi atau tidak dapat dikenali. jika faktor obesitas sangat berperan pada orang dewasa, maka pada anak dengan &lt;em&gt;sleep apnea&lt;/em&gt; cenderung berat badannya rendah dan postur tubuhnya pendek.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Apa saja keluhan atau gejala yang dirasakan pada SAO?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Yang paling sering dirasakan adalah ia merasa amat sangat mengantuk sepanjang hari (&lt;em&gt;Excessive daytime sleepiness&lt;/em&gt;). Ia menjadi tidak mampu mengemudi, tiba2 sangat mengantuk di tengah2 percakapan, dan sering diungkapkan sebagai rasa teramat lelah atau '&lt;em&gt;fatigue&lt;/em&gt;', dsb. Mengingat gejala yang timbul tersebut munculnya bergradasi, sering membuat penderita tidak sadar bahwa ia mengidap gangguan tidur, artinya peristiwa tidur yang buruk dengan periode henti napas berulang tidak disadari oleh penderita.&lt;br /&gt;Karena itu penting bagi pasangan/pendamping tidurnya atau anggota keluarga, teman, atau teman kerjanya untuk memahami tanda2 SAO. Besar kemungkinan saat ia tertidur akan terdengar suara napas yang tidak lazim, diantaranya:&lt;br /&gt;1. Pause diantara suara napas&lt;br /&gt;2. Bunyi tercekik&lt;br /&gt;3. Suara berkarakter eksplosif (terbukanya saluran napas scr tiba2 setelah sumbatan total)&lt;br /&gt;4. Gemeretuk gigi selama tidur&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Apa saja Konsekuensi SAO pada orang dewasa?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Konsekuensi kardio-vaskuler&lt;br /&gt;1. Hipertensi&lt;br /&gt;2. Gagal jantung kongestif&lt;br /&gt;3. Aterosklerosis&lt;br /&gt;4. Atrial fibrilasi&lt;br /&gt;5. Ventrikular aritmia&lt;br /&gt;6. pulmonari hipertension&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi lainnya&lt;br /&gt;1. Kecelakaan lalu lintas&lt;br /&gt;2. Glaukoma&lt;br /&gt;3. Menurunnya libido&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi2 lainnya yang dilaporkan berhubungan dengan SAO&lt;br /&gt;1. Obesitas dan sindroma obesitas, seperti Prader-Willi syndrome&lt;br /&gt;2. Kelainan ovari polisistik&lt;br /&gt;3. Gagal ginjal&lt;br /&gt;4. Hipotiroidisme&lt;br /&gt;5. Sindroma Marfan's&lt;br /&gt;6. Penyakit charcot-Marie-Tooth&lt;br /&gt;7. Refluks gastroesofageal&lt;br /&gt;8. Epilepsi yang memberat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Bagaimana menangani SAO?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Terdapat sejumlah strategi/pilihan pengobatan untuk SAO, tentu saja disesuaikan dan berdasarkan hasil evaluasi yang teliti terhadap berbagai faktor yang mungkin menjadi penyebab timbulnya SAO, mulai dari hidung hingga level saluran napas atas yang paling bawah, melalui berbagai prosedur pemeriksaan, seperti: ananmnesis, pemeriksaan fisik umum dan area kepala-leher lengkap, termasuk mendeteksi masalah jantung paru atau hipertensi, pemeriksaan flexible endoscopic (ex. Muller's manuver), prosedur dasar/basis lidah. Beberapa modalitas pemeriksaan/test juga penting dalam penanganan SAO, antara lain: The &lt;em&gt;Epworth Sleepiness scale,&lt;/em&gt; &lt;em&gt;home sleep studies&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;multiple sleep latency test&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;sleep endoscopy,&lt;/em&gt; ataupun polisomnografi untuk &lt;em&gt;sleep study.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Adapun pilihan modal terapi yang berkembang hingga saat ini, dapat dikelompokkan ke dalam terapi dengan pendekatan medis dan bedah.&lt;br /&gt;1. Pengobatan non farmakologis seperti:&lt;br /&gt;- Penurunan berat badan&lt;br /&gt;- Penggunaan &lt;em&gt;tongue-retaining devices&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;- &lt;/em&gt;Modalitas &lt;em&gt;positive airway pressure&lt;/em&gt;: CPAP dan BiPAP&lt;br /&gt;2. Medikasi: oksigen, protriptyline, theophylline.&lt;br /&gt;3. Prosedur bedah: UPPP, somnoplasti, trakeostomi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5869925387959325419-984114374262186147?l=imammegantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imammegantara.blogspot.com/feeds/984114374262186147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5869925387959325419&amp;postID=984114374262186147' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/984114374262186147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/984114374262186147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imammegantara.blogspot.com/2008/08/anda-mengorok-atau-sering-mengalami.html' title='Anda mengorok? atau Sering mengalami henti napas saat tidur?'/><author><name>IMAM MEGANTARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09443155774992248001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_xZs05pnMnmA/SDXAXv2FcvI/AAAAAAAAAHc/6vZ__HK2XbA/S220/100_0140.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5869925387959325419.post-1612300866639337387</id><published>2008-06-07T10:35:00.000-07:00</published><updated>2008-06-07T10:40:01.574-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Otologi'/><title type='text'>Gangguan Dengar</title><content type='html'>Pendengaran adalah fungsi yang penting dan sangat berharga dalam kehidupan, terutama dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Gangguan dengar atau ketulian yang bersifat permanen bukan tidak mungkin menimbulkan masalah psikososial dan kesehatan yang pada akhirnya menyebabkan seseorang kehilangan pekerjaan, depresi, dan terisolasi dari kehidupan sosial.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Sistem Pendengaran&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sistem pendengaran dapat dibagi ke dalam empat bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah, telinga dalam, dan sistem saraf pendengaran disertai pusat pendengaran di otak. Telinga luar berperan pasif tetapi penting bagi pendengaran. Daun telinga berfungsi mengumpulkan suara dan mengetahui lokasi datangnya suara, sedangkan liang telinga (saluran telinga luar) karena bentuk dan dimensinya yang membuat ia bersifat resonator, maka dapat menambah intensitas (kekerasan bunyi) pada rentang frekuensi 2-4 kilohertz (kHz) sebesar 10-15 dB.&lt;br /&gt;Telinga tengah dengan 3 buah tulang pendengarannya (maleus-inkus-stapes) membentuk sistem pengungkit (katrol) untuk menghantarkan suara dari gendang telinga ke fenestra/foramen ovale (lubang pada tulang yang membatasi telinga tengah dan telinga dalam). Transmisi energi suara melalui telinga tengah ini diawali dengan bergetarnya gendang telinga yang menggerakkan maleus. Selanjutnya lengan tulang maleus dan prosesus (tonjolan) tulang inkus bergerak bersama-sama untuk kemudian menyebabkan tulang stapes bergerak seperti piston di dalam fenestra ovale.&lt;br /&gt;Gerakan piston dari stapes tersebut menimbulkan perubahan tekanan yang akan diteruskan dan dihantarkan melalui cairan perilimfe di telinga dalam (koklea) ke sekat koklea. Transmisi tekanan ini menyebabkan sekat koklea menggelembung ke atas dan ke bawah dan mengaktifkan sel rambut di dalam organokorti untuk merangsang saraf pendengaran. Artinya pada telinga luar dan telinga tengah terjadi proses transmisi (hantaran suara) dan transformasi (peningkatan energi suara), sedangkan di telinga dalam terjadi proses mekanotransduksi (perubahan energi suara menjadi energi potensial listrik). Perubahan potensial inilah yang kemudian akan merangsang terjadinya aktivasi sepanjang serabut saraf pendengaran untuk kemudian dipersepsikan sebagai suara di pusat pendengaran di otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Gangguan Dengar&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Gangguan dengar didefinisikan sebagai berkurangnya pendengaran dari derajat ringan sampai sangat berat. Jika seseorang dapat mendengar suara dari suatu sumber bunyi dengan intensitas (tingkat kekerasan bunyi) antara 0-25 dB, maka ia memiliki fungsi pendengaran yang normal. Berdasarkan titik tolak tersebut, maka jika seseorang:&lt;br /&gt;baru dapat mendengar suara dengan intensitas”&lt;br /&gt;1. 26-40 dB : gangguan dengar ringan&lt;br /&gt;2. 41-55 dB : gangguan dengar sedang&lt;br /&gt;3. 56-70 dB : gangguan dengar sedang-berat&lt;br /&gt;4. 71-90 dB : gangguan dengar berat&lt;br /&gt;5. &gt; 90 dB : gangguan dengar sangat berat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jenis gangguan dengar dapat dikategorikan ke dalam gangguan dengar tipe konduktif (&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;conductive hearing loss&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;) terjadi bila terdapat gangguan hantaran suara yang ditransmisikan melalui udara mulai dari liang telinga (saluran telinga luar), gendang telinga, rangkaian tulang pendengaran yang terdapat di rongga telinga tengah, hingga sampai foramen ovale. Artinya suatu kelainan yang terdapat pada setiap area di atas dapat menyebabkan gangguan pendengaran tipe konduktif. Sampai batas tertentu, gangguan pendengaran tipe ini masih dapat diperbaiki. Kategori lainnya adalah gangguan dengar tipe sensorineural (&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;sensorineural hearing loss&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;) yang akan terjadi jika hantaran suara melalui tulang untuk transmisi di daerah persepsi (sel-sel rambut organokorti di telinga dalam hingga saraf pendengaran area auditorius di otak). Bisa saja terdapat gangguan pendengaran pada kedua jenis hantaran di atas yang kemudian dikategorikan sebagai gangguan dengar/tuli campur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5869925387959325419-1612300866639337387?l=imammegantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imammegantara.blogspot.com/feeds/1612300866639337387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5869925387959325419&amp;postID=1612300866639337387' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/1612300866639337387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/1612300866639337387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imammegantara.blogspot.com/2008/06/gangguan-dengar.html' title='Gangguan Dengar'/><author><name>IMAM MEGANTARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09443155774992248001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_xZs05pnMnmA/SDXAXv2FcvI/AAAAAAAAAHc/6vZ__HK2XbA/S220/100_0140.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5869925387959325419.post-5049195866154041215</id><published>2008-06-07T10:23:00.000-07:00</published><updated>2008-09-14T00:07:57.116-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Faringologi/Laringologi'/><title type='text'>Tonsilitis</title><content type='html'>Tonsillitis adalah suatu peradangan pada tonsil (atau biasa disebut amandel) yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, namun hampir 50% kasus tonsilitis adalah karana infeksi. Tonsilitis akut sering dialami oleh anak dengan insidensi tertinggi pada usia 5-6 tahun, dan juga pada orang dewasa di atas usia 50 tahun. Seseorang terpredisposisi menderita tonsillitis jika memiliki resistensi yang rendah, memiliki tonsil dengan kondisi tidak menguntungkan akibat tonsilitis berulang sebelumnya, sebagai bagian dari radang tenggorok (faringitis) secara umum, atau sekunder terhadap infeksi virus (biasanya adenovirus yang menyebabkan tonsil menjadi mudah diinvasi bakteri).&lt;br /&gt;Manifestasi klinik yang mungkin timbul pada tonsilitis sangat bervariasi untuk tiap penderita, diantaranya rasa mengganjal atau kering di tenggorokan, nyeri tenggorok (&lt;em&gt;sore throat&lt;/em&gt;) rasa haus, malaise, demam, menggigil, nyeri menelan (odinofagia), gangguan menelan (disfagia), nyeri yang menyebar ke telinga, pembengkakan kelenjar getah bening regional, perubahan suara, nyeri kepala, ataupun nyeri pada bagian punggung dan lengan.&lt;br /&gt;Diagnosis dari tonsilitis akut atau berulang ditegakkan terutama berdasarkan manifestasi klinis. Meskipun demikian prosedur kultur dan resistensi bakterial sangat dianjurkan. Hal ini berkaitan dengan ditemukannya jenis bakteri Streptokokus beta hemolitikus grup A pada 40% kasus, di mana tonsilitis yang terjadi sekunder terhadap bakteri ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang cukup berat. Jenis bakteri lain yang juga dapat ditemukan, antara lain: streptokokus alfa dan gama, difteroid, stafilokokus aureus, dan haemofilus influenza. Di samping itu bakteri anaerob juga telah ditemukan pada permukaan dan poros tonsil, terutama grup bakteroides melaninogenikus.&lt;br /&gt;Meskipun kebanyakan kasus tonsilitis dapat sembuh dengan penanganan konvensional, seperti istirahat (&lt;em&gt;bedrest&lt;/em&gt;), asupan makanan yang baik, penurun panas (antipiretik), di mana tanpa pemberian antibiotik, tonsilitis biasanya berlangsung selama kurang lebih 1 minggu. Adapun pemberian antibiotik dalam kasus seperti ini, umumnya ditujukan untuk mengurangi episode penyakit dan lamanya gejala yang diderita seperti nyeri tenggorok, demam, nyeri kepala, ataupun pembengkakan kelenjar getah bening. Antibiotika sendiri menjadi indikasi jika pada pemeriksaan kultur dan resistensi ditemukan bakteri Streptokokus beta hemolitikus grup A, dengan tujuan mengeradikasi kuman dan mencegah komplikasi lebih lanjut.&lt;br /&gt;Beberapa komplikasi yang mungkin timbul akibat tonsillitis akut atau berulang, di antaranya:&lt;br /&gt;1. &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;Abses peritonsilar (quinsy)&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; :&lt;/span&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;Biasanya timbul pada pasien dengan tonsillitis berulang atau kronis yang tidak mendapat terapi yang adekuat.&lt;br /&gt;2. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Abses parafaringeal&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; : Timbul jika infeksi atau pus (cairan abses) mengalir dari tonsil atau abses peritonsilar melalui otot konstriktor superior, sehingga formasi abses terbentuk di antara otot ini dan fascia servikalis profunda. Komplikasi ini berbahaya karena terdapat pada area di mana pembuluh darah besar berada dan menimbulkan komplikasi serius.&lt;br /&gt;3. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Abses retrofaringeal&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; : Keadaan ini biasanya disertai sesak nafas (dyspnea), ganggaun menelan, dan benjolan pada dinding posterior tenggorok, dan bisa menjadi sangat berbahaya bila abses menyebar ke bawah ke arah mediastinum dan paru-paru.&lt;br /&gt;4. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Adenitis servikalis supuratif&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Tonsilolith&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; : Tonsilolith adalah kalkulus di tonsil akibat deposisi kalsium, magnesium karbonat, fosfat, dan debris pada kripta tonsil membentuk benjolan keras. Biasanya menyebabkan ketidaknyamanan, bau mulut, dan ulserasi (ulkus bernanah).&lt;br /&gt;6. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Kista tonsil&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; : Umumnya muncul sebagai pembengkakan pada tonsil berwarna putih atau kekuningan sebagai akibat terperangkapnya debris pada kripta tonsil oleh jaringan fibrosa.&lt;br /&gt;7. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Komplikasi sistemik&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; : Kebanyakan komplikasi sistemik terjadi akibat infeksi Streptokokus beta hemolitikus grup A. Di antaranya: radang ginjal akut (acute glomerulonephritis), demam rematik, dan bakterial endokarditis yang dapat menimbulkan lesi pada katup jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanganan tonsillitis bisa sangat bervariasi tergantung dari perjalanan penyakitnya sendiri, mulai dari penanganan konvensional hingga tindakan pembedahan seperti tonsilektomi dan adenoidektomi. Jika pun keputusan pembedahan yang diambil, maka harus berdasarkan indikasi yang jelas dan telah mempertimbangkan cost/benefit ratio dari tindakan tersebut, selain itu telah diperhitungkan komplikasi yang mungkin terjadi. Beberapa indikasi untuk tonsilektomi/adenoidektomi antara lain: tonsillitis rekuren atau kronis dengan kriteria yang telah ditentukan, difteria yang tidak berespon terhadap terapi medikamentosa, demam rematik, tonsillitis yang berkaitan dengan infeksi telinga tengah atau sinusitis maksilaris, formasi abses, obstruksi jalan napas, dugaan keganasan tonsil, dan lain sebagainya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5869925387959325419-5049195866154041215?l=imammegantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imammegantara.blogspot.com/feeds/5049195866154041215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5869925387959325419&amp;postID=5049195866154041215' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/5049195866154041215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/5049195866154041215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imammegantara.blogspot.com/2008/06/tonsilitis.html' title='Tonsilitis'/><author><name>IMAM MEGANTARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09443155774992248001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_xZs05pnMnmA/SDXAXv2FcvI/AAAAAAAAAHc/6vZ__HK2XbA/S220/100_0140.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5869925387959325419.post-5587784803666636927</id><published>2008-05-19T08:21:00.000-07:00</published><updated>2008-08-29T10:55:44.621-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rinologi'/><title type='text'>Mimisan (Epistaksis) …. Berbahayakah?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SDGrbfthRjI/AAAAAAAAAG8/s_VZLyiFtMk/s1600-h/800px-Epistaxis1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202127533446874674" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SDGrbfthRjI/AAAAAAAAAG8/s_VZLyiFtMk/s320/800px-Epistaxis1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Epistaksis atau perdarahan dari hidung sering terjadi dengan manifestasi klinik yang bervariasi. Kebanyakan episode epistaksis sembuh spontan (&lt;em&gt;self-limit&lt;/em&gt;ing) atau dapat ditangani oleh penderita. Kalaupun ada yang berobat, biasanya akibat epistaksis berulang/beratnya perdarahan yang timbul. Sebagai estimasi, sekitar 5-10% penderita butuh penanganan ahli THT dan memerlukan perawatan lebih lanjut di rumah sakit, transfusi darah, ataupun intervensi bedah untuk menghentikan suplai darah pada beberapa kasus. Epistaksis bisa saja berbahaya, terutama jika dialami oleh penderita usia tua dan ada penyakit yang mendasarinya. Jika tidak ditangani dengan baik, epistaksis dapat mempengaruhi kerja jantung dan gangguan respirasi, maupun sepsis… yang bisa berakibat kematian !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;strong&gt;Tentang sistem pembuluh darah hidung.&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SDGr_fthRkI/AAAAAAAAAHE/LAPU-ON5Ekg/s1600-h/01e61e00.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202128151922165314" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SDGr_fthRkI/AAAAAAAAAHE/LAPU-ON5Ekg/s320/01e61e00.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hidung kita kaya pembuluh darah, yang berasal dari &lt;span style="color:#66ffff;"&gt;&lt;em&gt;Arteri karotis eksterna &lt;/em&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;em&gt;interna&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; (A. karotis eksterna &amp;amp; interna). A. karotis eksterna mensuplai darah ke hidung lewat &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;A. maksilaris interna&lt;/span&gt; dan &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;A. fasialis&lt;/span&gt;. Cabang terminal A. fasialis yaitu A. labialis superior, mensuplai darah ke dasar hidung dan septum bagian anterior. Sedangkan A. maksilaris interna akan masuk fossa pterigomaksilaris dan kemudian membentuk 6 percabangan arteri, yaitu: &lt;em&gt;posterior superior alveolar&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;descending palatine&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;infraorbital&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;sphenopalatine&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;pterygoid canal&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;pharyngeal&lt;/em&gt;. A.descending palatine berjalan ke bawah melalui kanalis palatina mayor dan mensuplai darah ke dinding lateral hidung, serta juga septum hidung bagian anterior lewat percabangan ke foramen incisivus. Adapun A. sfenopalatin masuk hidung dekat area perlekatan posterior konka media untuk kemudian mensuplai dinding lateral hidung, dan juga memberikan percabangannya ke septum hidung anterior.&lt;br /&gt;Arteri karotis interna memberikan kontribusi pada sistem vaskularisasi hidung, terutama lewat cabangnya, A. ophtalmicus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Pleksus Kiesselbach&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Little area&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, terletak di bagian anterior tulang rawan septum. Setiap cabang arteri yang mensuplai hidung ke area ini saling berhubungan membentuk anastomosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana epistaksis bisa terjadi?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara fungsional, epistaksis dibagi menjadi anterior dan posterior berdasarkan letak abnormalitas mukosa hidung. Dikategorikan anterior bila sumber perdarahannya berada di depan ostium sinus maksilaris, dan posterior bila di belakangnya. Lokasi perdarahan anterior termasuk area yang disuplai oleh A. etmoidalis anterior, terutama &lt;em&gt;pleksus Kiesselbach's&lt;/em&gt; di septum hidung bagian anterior. Epistaksis anterior sering terjadi pada anak dan dewasa muda, sedangkan epistaksis posterior lebih sering dialami oleh orang tua dengan hipertensi atau arterisklerosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pada prinsipnya&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;….. berbagai lesi dan kelainan anatomis bisa menyebabkan perdarahan anterior maupun posterior. Kelainan sistemik juga sangat dapat menimbulkan efek pada mukosa hidung. Jika tidak ada kelainan yang berorientasi anatomis maupun lesi, maka epistaksis sebaiknya dipertimbangkan sebagai hasil dari koagulopati, sampai dibuktikan penyebab lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat penyebab epistaksis sangat bervariasi dan bersifat multifaktor, maka secara umum faktor kausa epistaksis dapat diklasifikasikan ke dalam faktor lokal (trauma, iritasi mukosa, abnormalitas septum, penyakit inflamasi,, dan tumor), faktor sistemik (&lt;em&gt;blood dyscrasias&lt;/em&gt;, arteriosklerosis, &lt;em&gt;hereditary hemorrhagic telangiectasia&lt;/em&gt;), dan kasus idiopatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Trauma :&lt;br /&gt;•Trauma karena kebiasaan mengupil dapat menyebabkan ulkus dan perdarahan mukosa septum hidung. Ini sering timbul pada anak.&lt;br /&gt;•Trauma akut pada wajah dan hidung tidak jarang menyebabkan epistaksis. Jika timbul laserasi kecil saja pada mukosa, perdarahannya biasanya juga minimal. Namun suatu trauma wajah berat kerap menimbulkan epistaksis berat yang memerlukan tindakan khusus untuk menghentikannya, misalnya dengan tampon hidung. Selain itu perdarahan lambat (&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;delayed&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;epistaxis&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;) yang timbul pasca trauma merupakan sinyal adanya traumatic aneurysm.&lt;br /&gt;•Pasien yang menjalani bedah hidung juga berpotensi epistaksis. Sebagimana trauma hidung, epistaksis yang timbul juga bisa ringan (karena laserasi mukosa) hingga berat (karena terputusnya pembuluh darah mayor).&lt;br /&gt;2. Iritasi mukosa: cuaca panas dan/atau kering, serta obat semprot hidung bisa menyebabkan iritasi dan epistaksis.&lt;br /&gt;3. Abnormalitas septum: deviasi septum dan/atau septum yang terkoyak dapat menganggu aliran udara di hidung shg menyebabkan kekeringan dan epistaksis. Kebanyakan perdarahan timbul di depan dari koyakan septum.&lt;br /&gt;4. Inflamasi:&lt;br /&gt;•Rinosinusitis bakterial, viral, dan alergik menimbulkan inflamasi/peradangan yang kemudian menyebabkan epistaksis, meski biasanya ringan dan bercampur dengan lendir hidung.&lt;br /&gt;•Penyakit granulomatosis seperti sarkoidosis, wegener granulomatosis, tuberkulosis, sifilis, and rinoskleroma sering menyebabkan krusta dan menimbulkan epistaksis berulang.&lt;br /&gt;5. Tumor: baik tumor jinak maupun ganas dapat menimbulkan epistaksis, yang biasanya disertai gejala sumbat hidung (&lt;em&gt;nasal obstruction&lt;/em&gt;) dan rinosinusitis.&lt;br /&gt;6. &lt;em&gt;Blood dyscrasias&lt;/em&gt;: suatu kelainan koagulopati, bisa ‘&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcc00;"&gt;kongenital&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;’ maupun ‘&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcc33;"&gt;didapat&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;’. Koagulopati ‘kongenital’ menjadi suspek bila terdapat riwayat positif pada keluarga, mudah biru-biru, atau perdarahan memanjang saat mengalami trauma kecil ataupun pembedahan, contohnya antara lain hemofilia dan penyakit &lt;em&gt;von Willebrand&lt;/em&gt;. Untuk koagulopati ‘didapat’, bisa bersifat primer (berkaitan dengan penyakit tertentu) atau sekunder (berkaitan dengan terapi). Koagulopati ‘didapat’ sering timbul pada keadaan trombositopenia dan penyakit hati di mana terjadi penurunan faktor-faktor pembekuan (koagulan). Selain itu pada pasien alkoholik, imunodefisiensi, dan kelainan limfoproliferatif di mana terjadi penurunan faktor pembekuan dan jumlah platelet yang rendah, epistaksis yang terjadi biasanya sangat sulit dikontrol.&lt;br /&gt;7. &lt;em&gt;Hereditary hemorrhagic telangiectasia&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Osler-Rendu-Weber disease&lt;/em&gt; adalah penyakit autosomal dominan. Kelainannya terletak pada minimnya elemen kontraktil (jaringan elastik dan muskular) pada dinding pembuluh darah mulai dari kapiler hingga arteri, yang kemudian menimbulkan formasi telengiektasia (dilatasi venula dan kapiler) dan malformasi arteriovenous pada kulit atau lapisan mukosa saluran aerodigestivus. Keadaan ini menyebabkan mudahnya terjadi perdarahan, bahkan oleh trauma kecil sekalipun. Penderita biasanya mengalami epistaksis dan perdarahan gastrointestinal berulang, dan perlu ratusan kali transfusi selama hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Penanganan epistaksis&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A. &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Penanganan umum&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;1.Pasien dengan perdarahan hidung biasa mengontrol hal tersebut dengan melakukan penekanan langsung ataupun mengaplikasikan suatu obyek dingin pada hidung.&lt;br /&gt;2.Jika upaya tersebut gagal, pasien biasanya akan langsung mengontak atau pergi ke rumah sakit atau unit gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan.&lt;br /&gt;3.Pendekatan pertama yang biasa dilakukan adalah kauterisasi ataupun pemasangan tampon hidung (&lt;em&gt;nasal packing&lt;/em&gt;). Kauterisasi bermanfaat hanya jika sumber perdarahan pada mukosa hidung jelas terlihat. Kebanyakan epistaksis berhasil ditangani dengan pemasangan tampon di dalam hidung, karena selain mempertahankan mukosa hidung tetap lembab, juga bertindak sebagai tamponade untuk perdarahannya. Tampon hidung sendiri bisa berupa tampon posterior ataupun anterior tergantung letak sumber perdarahannya. Perlu diperhatikan bahwa saat melakukan pemasangan tampon, penempatannya harus tepat, dan tetap waspada terhadap potensi komplikasi, antara lain: trauma, infeksi, dehidrasi, dan tentu saja berubahnya ventilasi akibat obstruksi aliran udara lewat hidung, sehingga penderita akan menghirup udara melalui mulut yang akan berpengaruh terhadap mekanisme fisiologis pernapasan paru.&lt;br /&gt;4.Langkah lainnya dalam penanganan epistaksis adalah termasuk menilai derajat kehilangan darah dan perlu tidaknya transfusi. Penyakit yang mendasari juga harus dicari dan diobati secara tepat.&lt;br /&gt;5.Pada kasus trauma, penanganan tepat dan segera terhadap setiap kondisi yang membahayakan jiwa diprioritaskan terlebih dahulu. Manajemen terhadap jalan napas (&lt;em&gt;airway&lt;/em&gt;) dan penggantian cairan tubuh sangat penting, dan di saat yang sama juga dibutuhkan tindakan emergensi untuk mengontrol epistaksis dan melindungi jalan napas. Untuk tujuan ini biasanya dilakukan pemasangan &lt;em&gt;folley catheter&lt;/em&gt; yang diinflasikan di daerah nasofaring (area di belakang hidung) dan ditarik dari lubang hidung depan untuk menekan area perdarahan potensial di bagian belakang hidung sekaligus melindungi jalan napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. &lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Penanganan khusus&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;1.Pendekatan lainnya adalah dengan melakukan ligasi pembuluh darah yang mensuplai darah ke hidung. Pilihan untuk ligasi dilakukan jika penanganan melalui kauterisasi maupun tampon hidung gagal.Pertimbangan lainnya dari intervensi vaskuler secara dini ini adalah kenyamanan pasien, masa perawatan di rumah sakit, dan kefektivan secara keseluruhan. Secara umum ligasi A. maksilaris lebih efektif dibandingkan A. karotis eksterna, mengingat ligasi pada A. karotis eksterna masih memungkinkan suplai darah ke lokasi perdarahan melalui sistem vaskularisasi kolateral, di samping komplikasi serius yang mungkin timbul, seperti stroke dan trauma vaskuler.&lt;br /&gt;2.Pendekatan terkini dari intervensi vaskuler secara langsung adalah visualisasi angiografi dan embolisasi cabang terminal A. maksilaris.&lt;br /&gt;3.Dari sekian banyak pendekatan dalam penanganan epistaksis, sebenarnya yang paling penting adalah kehati-hatian dalam mengevaluasi kondisi penderita, serta identifikasi letak perdarahan secara akurat. Dan pilihan yang diambil… apapun itu, harus benar-benar dipertimbangkan berdasarkan kondisi yang ada, resiko maupun keuntungan dari setiap tindakan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5869925387959325419-5587784803666636927?l=imammegantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imammegantara.blogspot.com/feeds/5587784803666636927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5869925387959325419&amp;postID=5587784803666636927' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/5587784803666636927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/5587784803666636927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imammegantara.blogspot.com/2008/05/perdarahan-hidung-epistaksis.html' title='Mimisan (Epistaksis) …. Berbahayakah?'/><author><name>IMAM MEGANTARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09443155774992248001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_xZs05pnMnmA/SDXAXv2FcvI/AAAAAAAAAHc/6vZ__HK2XbA/S220/100_0140.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SDGrbfthRjI/AAAAAAAAAG8/s_VZLyiFtMk/s72-c/800px-Epistaxis1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5869925387959325419.post-5788506667612837523</id><published>2008-05-18T07:10:00.000-07:00</published><updated>2008-05-21T10:26:58.186-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Otologi'/><title type='text'>Cotton Bud ?? .... Jangan pernah menaruhnya di telinga !!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SDBFifthRiI/AAAAAAAAAG0/h2y4CMx2qxc/s1600-h/earwax.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201734028543215138" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SDBFifthRiI/AAAAAAAAAG0/h2y4CMx2qxc/s320/earwax.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Telinga luar terdiri dari daun telinga berbentuk corong di sisi kepala ditambah dengan saluran telinga (liang telinga) yang panjangnya pada orang dewasa bervariasi dekitar 2.5 – 3 cm. Bentuk saluran telinga mirip&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt; ‘jam gelas’&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; yang menyempit di tengah, selain itu ia tidak lurus tapi lebih mirip bentuk huruf S kurus.&lt;br /&gt;Kulit liang telinga bagian paling luar (± 1/3 luar) memiliki kelenjar khusus penghasil serumen (&lt;em&gt;wax&lt;/em&gt;) atau orang bilang “kotoran telinga”, padahal sebenarnya paradigma ini salah… kenapa? Karena wax sendiri sebenarnya berguna untuk menyaring partikel debu dan partikel kecil lainnya untuk tidak masuk lebih ke dalam yang berpotensi merusak gendang telinga. Normalnya, &lt;em&gt;wax&lt;/em&gt; ini akan berakumulasi dan kemudian mengering.. lantas bermigrasi ke arah luar sambil membawa berbagai partikel tadi. Apalagi ternyata &lt;em&gt;wax&lt;/em&gt; mengandung banyak unsur yang mampu menghambat atau membunuh kuman dari luar yang ikut masuk ke dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, liang telinga dapat tersumbat (sering diistilahkan dengan blokade atau impaksi) oleh &lt;em&gt;wax&lt;/em&gt; jika &lt;em&gt;wax &lt;/em&gt;ini terdorong lebih ke dalam. Sekitar 6% blokade &lt;em&gt;wax&lt;/em&gt; menjadi masalah telinga yang sering dikeluhkan. Gejalanya sendiri mulai dari telinga terasa penuh, nyeri telinga, diziness, telinga berdenging atau bising (tinitus), hingga gangguan pendengaran yang mungkin bersifat progresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#ff0000;"&gt;Haruskah kita membersihkan telinga?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangkan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;fakta&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; di bawah ini…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sekali lagi, &lt;em&gt;wax&lt;/em&gt; tidak dihasilkan oleh liang telinga sebelah dalam yang dekat dengan gendang telinga, tapi hanya oleh bagian luar saja. Maka jika seseorang mengeluh telinga tersumbat, kebanyakan karena pemakaian cotton bud, peniti, klip, ujung tisu, atau apapun… yang semuanya cuma menyebabkan terdorongnya &lt;em&gt;wax&lt;/em&gt; lebih ke dalam. Selain itu kulit liang telinga sangat tipis dan fragil sehingga mudah trauma.&lt;br /&gt;2. &lt;em&gt;Wax&lt;/em&gt; itu sehat dalam jumlah tertentu dan melapisi kulit liang telinga yang secara temporer berfungsi sebagai penangkis partikel kecil dan air. Tidak adanya &lt;em&gt;wax&lt;/em&gt; dapat menyebabkan kekeringan dan telinga gatal.&lt;br /&gt;3. Hampir sepanjang waktu, secara otomatis telinga kita mampu membersihkan dirinya sendiri (&lt;em&gt;self-cleaning&lt;/em&gt;), yaitu: bergeraknya kulit liang telinga secara lambat dan bermigrasi dari arah dalam ke luar, sehingga wax lama (&lt;em&gt;old wax&lt;/em&gt;) secara konstan akan dikeluarkan.&lt;br /&gt;4. Pada keadaan ideal, kita sebaiknya jangan pernah membersihkan liang telinga. Hanya memang keadaan ideal tidak akan selalu berlangsung, hingga jika memang ingin telingannya dibersihkan, gunakan saja kain yang ditambatkan pada ujung jari.. tapi jangan masukan apapun ke liang telinga.&lt;br /&gt;5. Membersihkan telinga dengan benda/obyek yang dimasukkan ke dalam liang telinga bukan tidak mungkin menyebabkan komplikasi, seperti: rusaknya gendang telinga, infeksi liang telinga, ataupun infeksi telinga tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#ff0000;"&gt;Bagaimana cara menangani serumen (&lt;em&gt;wax&lt;/em&gt;) di rumah ?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Jika anda yakin bahwa gendang telinga tidak bolong…., maka bisa dicoba beberapa cara di bawah ini:&lt;br /&gt;1. Teteskan mineral oil hangat, baby oil, gliserin, ataupun tetes telinga wax yang banyak tersedia bebas di apotik, dengan maksud untuk melunakkan &lt;em&gt;wax&lt;/em&gt;, dan biarkan keluar dengan sendirinya atau dengan cara memiringkan kepala setelah 5 menit. Cara ini cukup efektif untuk kebanyakan penderita, dan jarang menimbulkan reaksi alergi.&lt;br /&gt;2. Selain bahan di atas, detergen drop, seperti hidrogen peroksida (H2O2) atau karbamid peroksida bisa pula digunakan untuk membantu mengeluarkan &lt;em&gt;wax&lt;/em&gt;. Hanya perlu diketahui bahwa membersihkan liang telinga dengan H2O2 menyebabkan gelembung oksigen hilang dan air menjadi terperangkap di belakang &lt;em&gt;wax&lt;/em&gt;, dan air hangat yang terperangkap ini menjadi media yang baik untuk pertumbuhan bakteri.&lt;br /&gt;3. Bisa pula anda siapkan alat suntikan dengan jarum yang tumpul untuk menyemprotkan air hangat ke dalam liang telinga secara perlahan, karena jika terlampau keras bisa menimbulkan kerusakan gendang telinga. Selain itu cara ini bisa juga menyebabkan anda menjadi limbung sesaat karena terangsangnya pusat keseimbangan di dalam telinga. Karena itu… hati-hatilah dengan cara ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#ff0000;"&gt;Beberapa hal yang harus diperhatikan !! &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#ff0000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;1. Jika upaya mengeluarkan &lt;em&gt;wax&lt;/em&gt; di rumah gagal&lt;br /&gt;2. Jika anda menduga gendang telinga bolong (riwayat infeksi telinga, kebisingan, atau telinga sakit bila mendengar suara yang keras)&lt;br /&gt;3. Jika terbukti adanya cairan keluar dari telinga&lt;br /&gt;4. Jika saat membersihkan &lt;em&gt;wax&lt;/em&gt;, timbul:&lt;br /&gt;a. Nyeri telinga, demam, ataupun gangguan pendengaran yang berlanjut&lt;br /&gt;b. Kepala berputar, hilang keseimbangan, atau jalan menjadi tidak ajeg&lt;br /&gt;c. Rasa mual dan demam tinggi&lt;br /&gt;d. Tuli mendadak&lt;br /&gt;Maka segera ke dokter atau rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#33cc00;"&gt;&lt;strong&gt;…… TIPS !!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;Earwax blockage can be prevented by avoiding the use of cotton-tipped swabs or Q-tips and other objects that push the wax deeper into the ear canal. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5869925387959325419-5788506667612837523?l=imammegantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imammegantara.blogspot.com/feeds/5788506667612837523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5869925387959325419&amp;postID=5788506667612837523' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/5788506667612837523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/5788506667612837523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imammegantara.blogspot.com/2008/05/cotton-bud-jangan-pernah-menaruhnya-di.html' title='Cotton Bud ?? .... Jangan pernah menaruhnya di telinga !!'/><author><name>IMAM MEGANTARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09443155774992248001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_xZs05pnMnmA/SDXAXv2FcvI/AAAAAAAAAHc/6vZ__HK2XbA/S220/100_0140.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SDBFifthRiI/AAAAAAAAAG0/h2y4CMx2qxc/s72-c/earwax.gif' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5869925387959325419.post-8362596413518012198</id><published>2008-05-13T23:02:00.000-07:00</published><updated>2008-05-21T10:27:38.822-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Otologi'/><title type='text'>TELINGA BERDENGING... Anda mengalaminya?</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SDA_8fthRcI/AAAAAAAAAGE/mqBXINxAgJw/s1600-h/Tinnitus.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SDA_8fthRcI/AAAAAAAAAGE/mqBXINxAgJw/s320/Tinnitus.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201727878150047170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Telinga berdenging atau dikenal dalam bahasa medis sebagai &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;Tinitus&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, banyak dikeluhkan sebagai suatu bising atau bunyi yang muncul di kepala. Meski istilah tersebut (bahasa latin &lt;em&gt;tinnere = ringing&lt;/em&gt;) seringkali dipakai untuk suara seperti dengungan (&lt;em&gt;buzzing&lt;/em&gt;), deringan (&lt;em&gt;ringing&lt;/em&gt;), atau gemuruh (&lt;em&gt;roaring&lt;/em&gt;), juga termasuk di dalamnya ketukan berirama (&lt;em&gt;pulsatile beats&lt;/em&gt;), klik, dan suara lainnya yang dapat berasal/tidak berasal dari telinga sendiri. Karena itu tinitus bukanlah penyakit atau sindroma, tapi hanya merupakan gejala yang mungkin berasal dari satu atau sejumlah kelainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya suara yang terdengar oleh telinga tersebut belum tentu bersifat kelainan (patologis)…. Jika orang sehat (terbukti telinganya normal) berada dalam ruang kedap (&lt;em&gt;anehoic chamber&lt;/em&gt;), maka ia akan dapat mendengar berbagai macam suara yang berasal dari berbagai organ tubuhnya sendiri yang memang bekerja setiap saat, contohnya: pernafasan, kontraksi jantung, dan aliran darah. Kenyataannya… dalam kehidupan sehari-hari, suasana yang memungkinkan suara fisiologis (normal) tersebut terdengar oleh seseorang sangat jarang tercipta… bahkan dalam kamar yang sunyi di malam hari sekalipun, yang tetap memiliki bunyi masking dari lingkungan dengan intensitas bunyi sekitar 25 – 30 dB. Tinitus baru menjadi gejala jika suara organ tubuh intensitasnya melebihi bunyi &lt;em&gt;masking&lt;/em&gt; lingkungan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinitus kerap diderita terutama orang pada kelompok usia pertengahan dan tua. Menurut &lt;em&gt;National Centre for Health Statistics &lt;/em&gt;di Amerika sana, sekitar 32% orang dewasa pernah mengalami tinitus pada suatu saat tertentu dalam hidupnya, dan 6 % nya sangat menganggu dan cukup sulit disembuhkan. Di Inggris, 17% populasi juga memiliki masalah tinitus. Sayangnya di Indonesia belum ada data statistiknya, namun berdasarkan pengalaman empiris, penderita tinitus cukup banyak dan sering ditemui di tempat praktek, klinik, maupun rumah sakit. Meski tinitus bukanlah keadaan yang membahayakan, munculnya gejala ini pada hampir kebanyakan orang sangat mengganggu dan sering mempengaruhi kualitas hidup dan pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinitus sendiri diklasifikasikan menjadi tinitus obyektif dan subyektif. Tinitus bersifat obyektif bila bunyi yang dipersepsikan oleh penderita juga dapat didengar oleh orang lain atau pemeriksa, dan bersifat subyektif bila bunyi dipersepsikan hanya oleh penderitanya saja. Secara umum tinitus obyektif diyakini berasal dari suatu sumber suara akustik (ataupun getaran/vibrasi) yang dapat teridentifikasi. Adapun tinitus subyektif dianggap berasal dari adanya abnormalitas pada jalur saraf pendengaran perifer dan/atau sentral. Tinitus juga dapat diklasifikasikan ke dalam pulsatil atau non pulsatil, yang mengindikasikan sumber penyebabnya berasal dari sistem vaskular (pembuluh darah). Pulsatil tinitus bisa obyektif ataupun subyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya pada kebanyakan kasus, tinitus jauh lebih kompleks dari yang bisa diduga berdasarkan pengklasifikasian di atas, maka tampaknya lebih akurat bila membagi tinitus berdasarkan kemungkinan sumber penyebab yang ternyata tidak sedikit. Berikut ini daftar berbagai hal yang hingga saat ini telah teridentifikasi dapat menjadi sumber penyebab tinitus:&lt;br /&gt;1. Kelainan vaskular (pembuluh darah) baik pada arteri atau vena.&lt;br /&gt;2. Kelainan muskular (otot): klonus otot palatum atau tensor timpani.&lt;br /&gt;3. Lesi pada saluran telinga dalam (internal auditory canal): Tumor saraf ke-8, vascular loops&lt;br /&gt;4. Gangguan kokhlea (organ telinga dalam): trauma akibat bising, trauma tulang temporal, penyakit Meniere’s, presbikusis (disintegrasi saraf ke-8 karena proses penuaan), Sudden sensorineural hearing loss (tuli saraf mendadak), emisi otoakustik.&lt;br /&gt;5. Ototoksisitas (Kerusakan organ telinga dalam akibat obat): aspirin, kuinin, dan antibiotika tertentu (aminoglikosida).&lt;br /&gt;6. Kelainan telinga tengah: infeksi (efusi), sklerosis, gangguan tuba eustachi.&lt;br /&gt;7. Lain-lain: serumen (kotoran telinga), benda asing pada saluran telinga luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Penanggulangan&lt;/strong&gt;:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanggulangan dan hasil pengobatan gejala tinitus pada seorang penderita dengan demikian akan sangat bervariasi tergantung dari sumber penyebabnya, dan apakah berhasil diidentifikasi atau tidak?....Sehingga anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang teliti dan memadai dari seorang dokter benar-benar dibutuhkan untuk mendapat hasil yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Medikamentosa&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai penelitian untuk menemukan jenis obat masih terus dilakukan. Adapun jenis obat yang dapat secara konsisten efektif pada pengobatan jangka panjang belum juga ditemukan. Meski demikian pemakaian beberapa jenis obat sedikit banyak dapat memberikan perbaikan pada pasien tinitus, seperti:&lt;br /&gt;1. Niacin dan derivatnya: nicotinamide (vasodilator) yg secara empiris telah digunakan secara luas untuk kelainan kokhlea (contoh: penyakit Meniere’s)&lt;br /&gt;2. Trimetazidine: obat anti iskemia dengan antioksidan&lt;br /&gt;3. Vitamin A: pada dosis tinggi dilaporkan memperbaiki ambang persepsi dan mencegah tinnitus. Namun perhatian terhadap toksisitasnya dapat membatasi vitamin A dalam penggunaan praktis.&lt;br /&gt;4. Lidokain intravena: suatu golongan anestetik local amide dengan aktivitas system saraf pusat, dilaporkan berguna dalam mengontrol tinnitus.&lt;br /&gt;5. Tocainine: merupakan lidokain oral dengan waktu paruh yang panjang.&lt;br /&gt;6. Trisiklik trimipramine: suatu anti depresan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Pembedahan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembedahan juga berperan dalam penanganan tinnitus jika diaplikasikan untuk mengoreksi sumber penyebab. Misalnya: stapedektomi untuk kelainan otosklerotik, lainnya adalah koklear implant. Pertimbangan juga dapat diberikan untuk melakukan terhadap pengikatan saraf ke-8 divisi koklearis, walaupun hasilnya tidak dapat diprediksikan.. dan tentu saja hanya bisa dilakukan terhadap pasien yang memang fungsi pendengarannya sudah rusak berat alias tuli berat yang tidak mungkin lagi dikoreksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Masking&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip dari masking adalah mengaplikasikan suatu nada akustik tertentu yang memiliki karakteristik yang sama dengan tinitus (ukuran frekuensi dan intensitas) sehingga bunyi menjadi tidak terdengar, melalui suatu alat khusus, diantaranya telah didisain menyerupai alat bantu dengar (&lt;em&gt;hearing aid&lt;/em&gt;) namun tanpa mikrofon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Pengobatan lainnya&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stimulasi listrik pada area tulang temporal dan gendang telinga, dengan keberhasilan yang bervariasi dalam mengurangi tinnitus. Modifikasi diet, &lt;em&gt;biofeedbac&lt;/em&gt;k, akupunktur, dan oksigen hiperbarik juga telah diusulkan untuk mengontrol tinitus, dan dapat dipertimbangkan sebagai terapi alternatif jika penanganan konvensional sebelumnya gagal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5869925387959325419-8362596413518012198?l=imammegantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imammegantara.blogspot.com/feeds/8362596413518012198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5869925387959325419&amp;postID=8362596413518012198' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/8362596413518012198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5869925387959325419/posts/default/8362596413518012198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imammegantara.blogspot.com/2008/05/telinga-berdenging-anda-mengalaminya.html' title='TELINGA BERDENGING... Anda mengalaminya?'/><author><name>IMAM MEGANTARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09443155774992248001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_xZs05pnMnmA/SDXAXv2FcvI/AAAAAAAAAHc/6vZ__HK2XbA/S220/100_0140.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_xZs05pnMnmA/SDA_8fthRcI/AAAAAAAAAGE/mqBXINxAgJw/s72-c/Tinnitus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry></feed>
